Inovasi adalah tindakan yang mengakibatkan sumber daya mempunyai
kemampuan baru untuk menciptakan kesejahteraan manusia. Sebelum orang
berinovasi tidak akan ada sesuatu pun yang ada di alam ini menjadi
sumber daya. Saat menemukan manfaat dari sesuatu tersebut dan memberi
nilai ekonomis maka muncullah inovasi.
Sahabat
Orbit, ternyata kata lampu berasal dari Yunani yaitu lampas, yang
berarti obor! Benda bercahaya ini pertama kali ditemukan sekitar 70.000
SM, sebuah batu yang bentuknya berongga dipenuhi dengan lumut atau bahan
serupa yang direndam dengan lemak hewan dan dinyalakan.
Manusia mulai meniru bentuk alam
dengan tembikar buatan seperti alabaster, dan lampu logam. Kemudian
benda tersebut ditambahkan sumbu untuk mengendalikan laju pembakaran.
Sekitar abad ke-7 SM, bangsa Yunani
mulai membuat terra cotta lampu untuk menggantikan obor genggam. Terra
cotta adalah benda yang terbuat dari tanah liat melalui proses
pembakaran, sehingga dapat digenggam dan terhindar dari sambaran api.
Pada abad ke-18, terjadi perbaikan
besar dalam desain lampu. Sumber bahan bakar tertutup rapat dalam wadah
logam, agar dapat mengontrol banyaknya pembakaran bahan bakar serta
cahayanya. Beberapa saat kemudian, minyak lampu tersebut ditambahkan
sebuah cerobong kaca kecil untuk melindungi api dan mengontrol aliran
udara ke api.
Dahulu bahan bakar penerangan ini
terdiri dari minyak zaitun, lilin lebah, minyak ikan, dan bahan
sejenisnya. Ini adalah bahan bakar umum yang digunakan sampai akhir abad
18.
Pada 1859, pengeboran minyak bumi
dimulai. Minyak tanah yang merupakan turunan minyak bumi semakin populer
untuk mendukung pembakaran minyak lampu. Batubara dan lampu gas alam
juga meluas. Gas batubara pertama kali digunakan sebagai bahan bakar
penerangan pada awal 1784.
Pada 1792, penggunaan gas lampu
mulai diperjualbelikan ketika William Murdoch menggunakan gas batubara
untuk penerangan rumahnya. Freidrich Winzer adalah orang pertama yang
mematenkan pencahayaan gas batubara pada 1804 dan thermolampe yang
menggunakan gas sulingan dari kayu pada 1799.
Pada awal abad ke-19, sebagian besar
kota di Amerika Serikat dan Eropa memiliki jalan-jalan dengan
pencahayaan lampu gas. Kemudian, masih pada abad ke-19, terjadi
pengembangan pada penerangan menggunakan listrik. Lama kelamaan
pencahayaan di jalan-jalan berganti dengan natrium tekanan rendah dan
lampu merkuri bertekanan tinggi pada 1930-an.
Sahabat
Orbit, ternyata kata lampu berasal dari Yunani yaitu lampas, yang
berarti obor! Benda bercahaya ini pertama kali ditemukan sekitar 70.000
SM, sebuah batu yang bentuknya berongga dipenuhi dengan lumut atau bahan
serupa yang direndam dengan lemak hewan dan dinyalakan.
Manusia mulai meniru bentuk alam
dengan tembikar buatan seperti alabaster, dan lampu logam. Kemudian
benda tersebut ditambahkan sumbu untuk mengendalikan laju pembakaran.
Sekitar abad ke-7 SM, bangsa Yunani
mulai membuat terra cotta lampu untuk menggantikan obor genggam. Terra
cotta adalah benda yang terbuat dari tanah liat melalui proses
pembakaran, sehingga dapat digenggam dan terhindar dari sambaran api.
Pada abad ke-18, terjadi perbaikan
besar dalam desain lampu. Sumber bahan bakar tertutup rapat dalam wadah
logam, agar dapat mengontrol banyaknya pembakaran bahan bakar serta
cahayanya. Beberapa saat kemudian, minyak lampu tersebut ditambahkan
sebuah cerobong kaca kecil untuk melindungi api dan mengontrol aliran
udara ke api.
Dahulu bahan bakar penerangan ini
terdiri dari minyak zaitun, lilin lebah, minyak ikan, dan bahan
sejenisnya. Ini adalah bahan bakar umum yang digunakan sampai akhir abad
18.
Pada 1859, pengeboran minyak bumi
dimulai. Minyak tanah yang merupakan turunan minyak bumi semakin populer
untuk mendukung pembakaran minyak lampu. Batubara dan lampu gas alam
juga meluas. Gas batubara pertama kali digunakan sebagai bahan bakar
penerangan pada awal 1784.
Pada 1792, penggunaan gas lampu
mulai diperjualbelikan ketika William Murdoch menggunakan gas batubara
untuk penerangan rumahnya. Freidrich Winzer adalah orang pertama yang
mematenkan pencahayaan gas batubara pada 1804 dan thermolampe yang
menggunakan gas sulingan dari kayu pada 1799.
Pada awal abad ke-19, sebagian besar
kota di Amerika Serikat dan Eropa memiliki jalan-jalan dengan
pencahayaan lampu gas. Kemudian, masih pada abad ke-19, terjadi
pengembangan pada penerangan menggunakan listrik. Lama kelamaan
pencahayaan di jalan-jalan berganti dengan natrium tekanan rendah dan
lampu merkuri bertekanan tinggi pada 1930-an.
Sahabat
Orbit, ternyata kata lampu berasal dari Yunani yaitu lampas, yang
berarti obor! Benda bercahaya ini pertama kali ditemukan sekitar 70.000
SM, sebuah batu yang bentuknya berongga dipenuhi dengan lumut atau bahan
serupa yang direndam dengan lemak hewan dan dinyalakan.
Manusia mulai meniru bentuk alam
dengan tembikar buatan seperti alabaster, dan lampu logam. Kemudian
benda tersebut ditambahkan sumbu untuk mengendalikan laju pembakaran.
Sekitar abad ke-7 SM, bangsa Yunani
mulai membuat terra cotta lampu untuk menggantikan obor genggam. Terra
cotta adalah benda yang terbuat dari tanah liat melalui proses
pembakaran, sehingga dapat digenggam dan terhindar dari sambaran api.
Pada abad ke-18, terjadi perbaikan
besar dalam desain lampu. Sumber bahan bakar tertutup rapat dalam wadah
logam, agar dapat mengontrol banyaknya pembakaran bahan bakar serta
cahayanya. Beberapa saat kemudian, minyak lampu tersebut ditambahkan
sebuah cerobong kaca kecil untuk melindungi api dan mengontrol aliran
udara ke api.
Dahulu bahan bakar penerangan ini
terdiri dari minyak zaitun, lilin lebah, minyak ikan, dan bahan
sejenisnya. Ini adalah bahan bakar umum yang digunakan sampai akhir abad
18.
Pada 1859, pengeboran minyak bumi
dimulai. Minyak tanah yang merupakan turunan minyak bumi semakin populer
untuk mendukung pembakaran minyak lampu. Batubara dan lampu gas alam
juga meluas. Gas batubara pertama kali digunakan sebagai bahan bakar
penerangan pada awal 1784.
Pada 1792, penggunaan gas lampu
mulai diperjualbelikan ketika William Murdoch menggunakan gas batubara
untuk penerangan rumahnya. Freidrich Winzer adalah orang pertama yang
mematenkan pencahayaan gas batubara pada 1804 dan thermolampe yang
menggunakan gas sulingan dari kayu pada 1799.
Pada awal abad ke-19, sebagian besar
kota di Amerika Serikat dan Eropa memiliki jalan-jalan dengan
pencahayaan lampu gas. Kemudian, masih pada abad ke-19, terjadi
pengembangan pada penerangan menggunakan listrik. Lama kelamaan
pencahayaan di jalan-jalan berganti dengan natrium tekanan rendah dan
lampu merkuri bertekanan tinggi pada 1930-an.
Sahabat
Orbit, ternyata kata lampu berasal dari Yunani yaitu lampas, yang
berarti obor! Benda bercahaya ini pertama kali ditemukan sekitar 70.000
SM, sebuah batu yang bentuknya berongga dipenuhi dengan lumut atau bahan
serupa yang direndam dengan lemak hewan dan dinyalakan.
Manusia mulai meniru bentuk alam
dengan tembikar buatan seperti alabaster, dan lampu logam. Kemudian
benda tersebut ditambahkan sumbu untuk mengendalikan laju pembakaran.
Sekitar abad ke-7 SM, bangsa Yunani
mulai membuat terra cotta lampu untuk menggantikan obor genggam. Terra
cotta adalah benda yang terbuat dari tanah liat melalui proses
pembakaran, sehingga dapat digenggam dan terhindar dari sambaran api.
Pada abad ke-18, terjadi perbaikan
besar dalam desain lampu. Sumber bahan bakar tertutup rapat dalam wadah
logam, agar dapat mengontrol banyaknya pembakaran bahan bakar serta
cahayanya. Beberapa saat kemudian, minyak lampu tersebut ditambahkan
sebuah cerobong kaca kecil untuk melindungi api dan mengontrol aliran
udara ke api.
Dahulu bahan bakar penerangan ini
terdiri dari minyak zaitun, lilin lebah, minyak ikan, dan bahan
sejenisnya. Ini adalah bahan bakar umum yang digunakan sampai akhir abad
18.
Pada 1859, pengeboran minyak bumi
dimulai. Minyak tanah yang merupakan turunan minyak bumi semakin populer
untuk mendukung pembakaran minyak lampu. Batubara dan lampu gas alam
juga meluas. Gas batubara pertama kali digunakan sebagai bahan bakar
penerangan pada awal 1784.
Pada 1792, penggunaan gas lampu
mulai diperjualbelikan ketika William Murdoch menggunakan gas batubara
untuk penerangan rumahnya. Freidrich Winzer adalah orang pertama yang
mematenkan pencahayaan gas batubara pada 1804 dan thermolampe yang
menggunakan gas sulingan dari kayu pada 1799.
Pada awal abad ke-19, sebagian besar
kota di Amerika Serikat dan Eropa memiliki jalan-jalan dengan
pencahayaan lampu gas. Kemudian, masih pada abad ke-19, terjadi
pengembangan pada penerangan menggunakan listrik. Lama kelamaan
pencahayaan di jalan-jalan berganti dengan natrium tekanan rendah dan
lampu merkuri bertekanan tinggi pada 1930-an.
Sahabat
Orbit, ternyata kata lampu berasal dari Yunani yaitu lampas, yang
berarti obor! Benda bercahaya ini pertama kali ditemukan sekitar 70.000
SM, sebuah batu yang bentuknya berongga dipenuhi dengan lumut atau bahan
serupa yang direndam dengan lemak hewan dan dinyalakan.
Manusia mulai meniru bentuk alam
dengan tembikar buatan seperti alabaster, dan lampu logam. Kemudian
benda tersebut ditambahkan sumbu untuk mengendalikan laju pembakaran.
Sekitar abad ke-7 SM, bangsa Yunani
mulai membuat terra cotta lampu untuk menggantikan obor genggam. Terra
cotta adalah benda yang terbuat dari tanah liat melalui proses
pembakaran, sehingga dapat digenggam dan terhindar dari sambaran api.
Pada abad ke-18, terjadi perbaikan
besar dalam desain lampu. Sumber bahan bakar tertutup rapat dalam wadah
logam, agar dapat mengontrol banyaknya pembakaran bahan bakar serta
cahayanya. Beberapa saat kemudian, minyak lampu tersebut ditambahkan
sebuah cerobong kaca kecil untuk melindungi api dan mengontrol aliran
udara ke api.
Dahulu bahan bakar penerangan ini
terdiri dari minyak zaitun, lilin lebah, minyak ikan, dan bahan
sejenisnya. Ini adalah bahan bakar umum yang digunakan sampai akhir abad
18.
Pada 1859, pengeboran minyak bumi
dimulai. Minyak tanah yang merupakan turunan minyak bumi semakin populer
untuk mendukung pembakaran minyak lampu. Batubara dan lampu gas alam
juga meluas. Gas batubara pertama kali digunakan sebagai bahan bakar
penerangan pada awal 1784.
Pada 1792, penggunaan gas lampu
mulai diperjualbelikan ketika William Murdoch menggunakan gas batubara
untuk penerangan rumahnya. Freidrich Winzer adalah orang pertama yang
mematenkan pencahayaan gas batubara pada 1804 dan thermolampe yang
menggunakan gas sulingan dari kayu pada 1799.
Pada awal abad ke-19, sebagian besar
kota di Amerika Serikat dan Eropa memiliki jalan-jalan dengan
pencahayaan lampu gas. Kemudian, masih pada abad ke-19, terjadi
pengembangan pada penerangan menggunakan listrik. Lama kelamaan
pencahayaan di jalan-jalan berganti dengan natrium tekanan rendah dan
lampu merkuri bertekanan tinggi pada 1930-an.
Sejarah perkembangan perlampuan bermula pada puluhan abad yang lalu dari suatu penemuan
manusaia yang membutuhkan penerangan (cahaya buatan) untuk malam hari dengan
cara menggosok-gosokan batu hingga mengeluarkan api/cahaya.
Kemudian dari api
dikembangkan dengan membakar benda-benda yang mudah menyala hingga membentuk
sekumpulan cahaya dan seterusnya sampai ditemukan bahan bakar minyak dan gas
yang dapat digunakan sebagai bahan penyalaan untuk lampu obor, lampu minyak
maupun lampu gas.
Sahabat
Orbit, ternyata kata lampu berasal dari Yunani yaitu lampas, yang
berarti obor! Benda bercahaya ini pertama kali ditemukan sekitar 70.000
SM, sebuah batu yang bentuknya berongga dipenuhi dengan lumut atau bahan
serupa yang direndam dengan lemak hewan dan dinyalakan.
Manusia mulai meniru bentuk alam
dengan tembikar buatan seperti alabaster, dan lampu logam. Kemudian
benda tersebut ditambahkan sumbu untuk mengendalikan laju pembakaran.
Sekitar abad ke-7 SM, bangsa Yunani
mulai membuat terra cotta lampu untuk menggantikan obor genggam. Terra
cotta adalah benda yang terbuat dari tanah liat melalui proses
pembakaran, sehingga dapat digenggam dan terhindar dari sambaran api.
Pada abad ke-18, terjadi perbaikan
besar dalam desain lampu. Sumber bahan bakar tertutup rapat dalam wadah
logam, agar dapat mengontrol banyaknya pembakaran bahan bakar serta
cahayanya. Beberapa saat kemudian, minyak lampu tersebut ditambahkan
sebuah cerobong kaca kecil untuk melindungi api dan mengontrol aliran
udara ke api.
Dahulu bahan bakar penerangan ini
terdiri dari minyak zaitun, lilin lebah, minyak ikan, dan bahan
sejenisnya. Ini adalah bahan bakar umum yang digunakan sampai akhir abad
18.
Pada 1859, pengeboran minyak bumi
dimulai. Minyak tanah yang merupakan turunan minyak bumi semakin populer
untuk mendukung pembakaran minyak lampu. Batubara dan lampu gas alam
juga meluas. Gas batubara pertama kali digunakan sebagai bahan bakar
penerangan pada awal 1784.
Pada 1792, penggunaan gas lampu
mulai diperjualbelikan ketika William Murdoch menggunakan gas batubara
untuk penerangan rumahnya. Freidrich Winzer adalah orang pertama yang
mematenkan pencahayaan gas batubara pada 1804 dan thermolampe yang
menggunakan gas sulingan dari kayu pada 1799.
Pada awal abad ke-19, sebagian besar
kota di Amerika Serikat dan Eropa memiliki jalan-jalan dengan
pencahayaan lampu gas. Kemudian, masih pada abad ke-19, terjadi
pengembangan pada penerangan menggunakan listrik. Lama kelamaan
pencahayaan di jalan-jalan berganti dengan natrium tekanan rendah dan
lampu merkuri bertekanan tinggi pada 1930-an.
Sahabat
Orbit, ternyata kata lampu berasal dari Yunani yaitu lampas, yang
berarti obor! Benda bercahaya ini pertama kali ditemukan sekitar 70.000
SM, sebuah batu yang bentuknya berongga dipenuhi dengan lumut atau bahan
serupa yang direndam dengan lemak hewan dan dinyalakan.
Manusia mulai meniru bentuk alam
dengan tembikar buatan seperti alabaster, dan lampu logam. Kemudian
benda tersebut ditambahkan sumbu untuk mengendalikan laju pembakaran.
Sekitar abad ke-7 SM, bangsa Yunani
mulai membuat terra cotta lampu untuk menggantikan obor genggam. Terra
cotta adalah benda yang terbuat dari tanah liat melalui proses
pembakaran, sehingga dapat digenggam dan terhindar dari sambaran api.
Pada abad ke-18, terjadi perbaikan
besar dalam desain lampu. Sumber bahan bakar tertutup rapat dalam wadah
logam, agar dapat mengontrol banyaknya pembakaran bahan bakar serta
cahayanya. Beberapa saat kemudian, minyak lampu tersebut ditambahkan
sebuah cerobong kaca kecil untuk melindungi api dan mengontrol aliran
udara ke api.
Dahulu bahan bakar penerangan ini
terdiri dari minyak zaitun, lilin lebah, minyak ikan, dan bahan
sejenisnya. Ini adalah bahan bakar umum yang digunakan sampai akhir abad
18.
Pada 1859, pengeboran minyak bumi
dimulai. Minyak tanah yang merupakan turunan minyak bumi semakin populer
untuk mendukung pembakaran minyak lampu. Batubara dan lampu gas alam
juga meluas. Gas batubara pertama kali digunakan sebagai bahan bakar
penerangan pada awal 1784.
Pada 1792, penggunaan gas lampu
mulai diperjualbelikan ketika William Murdoch menggunakan gas batubara
untuk penerangan rumahnya. Freidrich Winzer adalah orang pertama yang
mematenkan pencahayaan gas batubara pada 1804 dan thermolampe yang
menggunakan gas sulingan dari kayu pada 1799.
Pada awal abad ke-19, sebagian besar
kota di Amerika Serikat dan Eropa memiliki jalan-jalan dengan
pencahayaan lampu gas. Kemudian, masih pada abad ke-19, terjadi
pengembangan pada penerangan menggunakan listrik. Lama kelamaan
pencahayaan di jalan-jalan berganti dengan natrium tekanan rendah dan
lampu merkuri bertekanan tinggi pada 1930-an.
Sahabat
Orbit, ternyata kata lampu berasal dari Yunani yaitu lampas, yang
berarti obor! Benda bercahaya ini pertama kali ditemukan sekitar 70.000
SM, sebuah batu yang bentuknya berongga dipenuhi dengan lumut atau bahan
serupa yang direndam dengan lemak hewan dan dinyalakan.
Manusia mulai meniru bentuk alam
dengan tembikar buatan seperti alabaster, dan lampu logam. Kemudian
benda tersebut ditambahkan sumbu untuk mengendalikan laju pembakaran.
Sekitar abad ke-7 SM, bangsa Yunani
mulai membuat terra cotta lampu untuk menggantikan obor genggam. Terra
cotta adalah benda yang terbuat dari tanah liat melalui proses
pembakaran, sehingga dapat digenggam dan terhindar dari sambaran api.
Pada abad ke-18, terjadi perbaikan
besar dalam desain lampu. Sumber bahan bakar tertutup rapat dalam wadah
logam, agar dapat mengontrol banyaknya pembakaran bahan bakar serta
cahayanya. Beberapa saat kemudian, minyak lampu tersebut ditambahkan
sebuah cerobong kaca kecil untuk melindungi api dan mengontrol aliran
udara ke api.
Dahulu bahan bakar penerangan ini
terdiri dari minyak zaitun, lilin lebah, minyak ikan, dan bahan
sejenisnya. Ini adalah bahan bakar umum yang digunakan sampai akhir abad
18.
Pada 1859, pengeboran minyak bumi
dimulai. Minyak tanah yang merupakan turunan minyak bumi semakin populer
untuk mendukung pembakaran minyak lampu. Batubara dan lampu gas alam
juga meluas. Gas batubara pertama kali digunakan sebagai bahan bakar
penerangan pada awal 1784.
Pada 1792, penggunaan gas lampu
mulai diperjualbelikan ketika William Murdoch menggunakan gas batubara
untuk penerangan rumahnya. Freidrich Winzer adalah orang pertama yang
mematenkan pencahayaan gas batubara pada 1804 dan thermolampe yang
menggunakan gas sulingan dari kayu pada 1799.
Pada awal abad ke-19, sebagian besar
kota di Amerika Serikat dan Eropa memiliki jalan-jalan dengan
pencahayaan lampu gas. Kemudian, masih pada abad ke-19, terjadi
pengembangan pada penerangan menggunakan listrik. Lama kelamaan
pencahayaan di jalan-jalan berganti dengan natrium tekanan rendah dan
lampu merkuri bertekanan tinggi pada 1930-an.
Prinsip kerja dari lampu listrik yaitu
dengan cara menghubung singkat listrik pada filamen carbon sehingga
terjadi arus hubung singkat yang mengakibatkan timbulnya panas. Panas yang
terjadi dibuat hingga suhu tertentu sampai mengeluarkan cahaya, dan cahaya yang
didapat pada waktu itu baru mencapai 3 Lumen/W (Lumen = satuan arus cahaya).
Baru lima
puluh tahun kemudian, tepatnya tahun1933 filamen carbon diganti dengan filamen
tungsten atau Wolfram (=wo) yang dibuat membentuk lilitan kumparan sehingga
dapat meningkatkan Eficacy lampu menjadi + 20 Lumen/W. Sistem
pembangkitan cahaya buatan ini disebut sistem pemijaran (Incondescence).
Revolosi teknologi perlampuan berkembang dengan pesatnya. Pada tahun 1910
pertama kali digunakan lampu luah (discharge) tegangan tinggi. Prinsip kerja
lampu ini menggunakan sistem emisi-elektron yang bergerak dari Katoda menuju
Anoda pada tabung lampu akan menumbuk 'atom-atom media gas yang ada di dalam
tabung tersebut, akibat tumbukan akan menjadi pelepasan energi dalam bentuk
cahaya. Sistem pembangkitan cahaya buatan ini disebut Luminescence (berpendarnya
energi cahaya keluar tabung).
Media gas
yang digunakan dapat berbagai macam. Tahun 1932 ditemukan lampu luah dengan gas
Sodium tekanan rendah, dan tahun 1935 dikembangkan lampu luah dengan gas
Merkuri, dan kemudian tahun 1939 berhasil dikembangkan lampu Fluorescen, yang
biasa dikenal dengan lampu neon. Selanjutnya lampu Xenon tahun 1959. Khusus
lampu sorot dengan warna yang lebih baik telah dikembangkan gas Metalhalide
(Halogen yang dicampur dengan Iodine) pada tahun 1964, sampai pada akhirnya
lampu Sodium tekanan tinggi tahun 1965. Prinsip emisi elektron ini yang dapat
meningkatkan efficacy lampu diatas 50 Lumen/W, jauh lebih tinggi dibanding
dengan prinsip pemijaran. Hal ini jelas karena rugi energi listrik yang diubah
menjadi energi cahaya melalui proses emisi elektron dapat dihemat banyak sekali
dibanding dengan cara pemijaran dimana energi listrik yang diubah menjadi
energi cahaya banyak yang hilang terbuang menjadi energi panas (sebelum menjadi
energi cahaya). Distribusi energi yang diubah menjadi energi cahaya.
Pada era
yang terakhir telah dikembangkan lampu pijar dengan sistem induksi magnit
yangmempunyai umur paling lama dari lampu-lampu jenis lain + 60.000 jam.
Namun hal ini masih dalam tahap penelitian. Dan penelitian & pengembangan
(R & D) guna mendapat nilai ekonomi yang lebih baik (benefit/cost rtio).
Untuk sistem penerangan dekade 90-an yang banyak digunakan oleh masyarakat umum
saat ini adalah jenis lampu frluorescen kompak model SL atau PL dan ini yang
dikenal lampu hemat energi (LHE).
Lampu Hemat Energi (LHE) &
Ballas Elektronik (BE)
Lampu Hemat Energi (LHE)
Seperti telah diuraikan diatas bahwa
jenis yang dimaksud jenis LHE adalah lampu jenis Fluorescen atau lebih dikenal
dengan lampu neon. Sekarang ini yang sedang populer dan giat-giatnya dipublikasikan
oleh para produsen perlampuan adalah lampu fluorescen model SL & PL. Lampu
model SL & PL pada prinsipnya secara teknis sama dengan model lampu jenis
fluorescen biasa yaitu efficacy lampu berkisar 60 Lumen/W, hanya keistimewaan
mempunyai bentuk yang ringkas, tidak memanjang seperti lampu fluorescen biasa,
komponen elektrisnya yang terdiri dari ballas, capasitor dan stater terpadu
dalam suatu kesatuan dalam lampu dan disebut model SL, sedangkan model PL untuk
komponen elektrisnya terpisah dari lampu. Bentuk kaki lampu dibuat sama
seperti pada kaki lampu pijar yaitu dengan sistem ulir dengan ukkuran standar
E.27. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan penggantian pada lampu pijar diubah
menjadi lampu fluorescen. Ada juga lampu fluorescen model ring yang kaki
lampunya diubah mengikuti seperti lampu pijar, yaitu sistem ulir ukuran standar
E.27. Renderasi warna (Colour rendering) dapat dipilih berbagai masam sesuai
yang diinginkan oleh konsumen, Bila diinginkan warna cahaya seperti lampu pijar
maka dapat dipilih dengan indeks renderasi warna yang tinggi, karena warna pada
lampu pijar adalah warna standar / acuanyang mendekati warna cahaya dengan
spektrum yang lengkap seperti pada sinar matahari.
Selain itu bila diinginkan warna cahaya lain seperti warna white, cool white,
day ligh, dll, maka hal ini lebih dimungkinkan didapat pada lampu fluorescen
dibandingkan dengan lampu pijar yang hanya mempunyai satu jenis redensi warna.
Umur lampu fluorescen adalah 8000 jam, lebih lama bila dibandingkan dengan umur lampu pijar yang hanya 1000 jam.
Umur lampu fluorescen adalah 8000 jam, lebih lama bila dibandingkan dengan umur lampu pijar yang hanya 1000 jam.
![]() |
| LAMPU PIJAR |
Ballas jenis ini mempunyai keunikan khusus, yaitu sistem bekerjanya tidak lagi menggunakan gulungan (kumparan) kawat pada suatu inti besi, tetapi telah diganti dengan sistem rangkaian elektronik sehingga besarnya rugi-rugi pada inti besi, pada kumparan menjadi tidak adalagi, dan hanya sedikit rugi saja karena rangkaian/sirkit. Inilah yang paling menguntungkan dalam penghematan energi listrik yang diserapnya. Keuntungan lain yang didapat adalah dapat diatur konsumsi arus listriknya dengan tetap mempertahankann besar tegangan yang diinginkan, sehingg ballas elektronik dapat digunakan untuk sistem pengaturan energi listrik sesuai yang dibutuhkan pada suat ruangan. Dengan sistem sirkit elektronik maka ballas menjadi lebih ringan dan lebih kecil dibandingkan dengan ballas konvensional (sistem gulungan kawat).
Sudah sejak
lama lampu pijar dipakai orang, menggantikan obor, pelita, dan penerangan
dengan gas. Ketika dunia semakin benderang, pikiran pun bertambah cerah. Lampu
alternatif dicari dan diselidiki, dan kemudian muncul lampu hemat energi, yang
sekarang berangsur banyak digunakan. Sebenarnya, bagaimana cara lampu ini
bekerja?
Petir mini
Lampu pijar
bisa bersinar dan membagikan terang karena ada kawat tipis di dalamnya, yang
jika dialiri listrik menjadi panas, membara dan menyala. Asal energinya memang
listrik. Tetapi tidak selamanya listrik bertugas memanaskan kawat pijar. Ada
jenis lampu lain yang berisi gas dan listriknya dipakai untuk menerbitkan loncatan
listrik, semacam petir mini. Sebagai hasilnya, energi gas menjadi lebih tinggi
dari pada normalnya.
Keadaan
dengan tenaga lebih itu tidak berlangsung lama. Gas lekas turun ke harga semula
sambil melepaskan tambahan energi dari petir mini tadi. Pada beberapa jenis
gas, energi yang dilepas berbentuk cahaya. Ini terjadi misalnya pada lampu
natrium, yang sorotan kuningnya menerangi jalan besar dan pelataran ramai di
pusat kota. Cahaya kuning terbit karena sesaat sebelumnya energi gas natrium
dinaikkan oleh loncatan listrik.
Sangat
efisien, sebagian besar energi listrik beralih menjadi cahaya. Ini berbeda dari
lampu pijar yang tenaga setrumnya banyak terpakai untuk memanaskan kawat.
Sebagian saja yang menjadi terang, sebagian besar lainnya membuat gerah wilayah
di sekeliling lampu.
Yang sayang
dari lampu natrium hanya warnanya. Kuning mencorong, sehingga benda yang
diterangi kehilangan warna aslinya. Bahkan warna kulit manusia cenderung
menjadi keabuan, memunculkan pemandangan seakan mayat-mayat gentayangan di
bawah lampu. Menjadi pertanyaan, mungkinkah membuat lampu yang efisien tetapi
putih cahayanya?
Akal
ditemukan untuk melibatkan tidak hanya satu, tetapi dua jurus kenaikan dan
penurunan kembali energi. Pertama-tama peningkatan energi diciptakan dengan
loncatan listrik. Mirip sekali dengan lampu natrium, hanya kali ini
diberikannya pada uap merkuri (air raksa). Jika gas natrium mengeluarkan sinar
kuning ketika energinya turun lagi, pancaran yang dilepaskan uap merkuri adalah
ultra violet.
Berbeda dari
cahaya kuning, pancaran ultra violet tidak menyebabkan kesan terang. Tidak apa,
bukan efek cerah yang dimanfaatkan dari ultra violet, melainkan tenaganya.
Yaitu untuk mendongkrak energi bahan tertentu yang berada di dekatnya, sehingga
menyebabkan jurus kenaikan yang kedua. Pada gilirannya, kenaikan kedua ini di
saat luruh akan melepaskan (ini dia yang ditunggu-tunggu) cahaya putih terang.
Gejala
peralihan ultra violet menjadi cahaya lain dinamai fluoresensi, dan bahan yang
dikenai ultra violet disebut bahan fluoresen. Dalam praktek, bahan fluoresen
dilapiskan pada tabung lampu yang berisi uap merkuri. Maka terwujudlah lampu
fluoresen, atau lampu TL (dari tube luminescent, tabung bercahaya),
dikenal secara awam sebagai "lampu neon" dengan panjang tabung mulai
sekitar 30 cm sampai lebih dari 1 meter.
Lampu hemat
energi
Serupa
dengan lampu natrium, lampu TL mempunyai efisiensi yang tinggi sehingga
menghemat rekening listrik. Sebuah karakternya ialah ketika saklar dinyalakan,
TL memerlukan waktu tunggu sebelum terang sepenuhnya. Tetapi kemudian orang
mengganti balast konvensional pada lampu dengan sistem penyala elektronik.
Hasilnya menjadi lebih cepat terang, tidak berkedip-kedip dulu. Porsi listrik
yang termanfaatkan sebagai cahayapun bertambah. Di pihak lain, tabungnya dibuat
tidak panjang tetapi ditekuk atau digulung seperti spiral sehingga lebih
ringkas dan praktis. Keseluruhannya dikenal sebagai "lampu hemat
energi" (CFL, compact fluorescent lamp).
Perhatikan
bahwa TL maupun CFL mengandung merkuri yang beracun. Perlu kehati-hatian dengan
kedua jenis lampu ini. Jika sampai terjatuh dan pecah, lokasinya harus segera
dijauhi, pintu dan jendela dibuka lebar setidaknya selama 15 menit untuk
membersihkan udara.
Dibandingkan
lampu pijar yang terangnya sama, CFL memang lebih mahal. Tetapi ongkos
setrumnya lebih rendah, lagi pula usianya lebih panjang, sehingga harga
pembelian cenderung impas. Yang penting, penghematan energi terjadi, dan ini
adalah isu utama yang mendorong sejumlah negara untuk beralih ke CFL.
Ganti akrab
dengan CFL dan mengucapkan selamat tinggal kepada lampu pijar, berarti
mengurangi emisi CO2 pada pusat pembangkit listrik dan mengerem pemanasan
global. Australia sudah mengumumkan akan melarang lampu pijar pada tahun 2010.
Di Finlandia, perdana menterinya mengusulkan pelarangan mulai tahun 2011.
sumber:
http://elektroindonesia.com/elektro/no1a.html
http://netsains.com/2009/04/bagaimana-lampu-hemat-energi-bekerja/
Sahabat
Orbit, ternyata kata lampu berasal dari Yunani yaitu lampas, yang
berarti obor! Benda bercahaya ini pertama kali ditemukan sekitar 70.000
SM, sebuah batu yang bentuknya berongga dipenuhi dengan lumut atau bahan
serupa yang direndam dengan lemak hewan dan dinyalakan.
Manusia mulai meniru bentuk alam
dengan tembikar buatan seperti alabaster, dan lampu logam. Kemudian
benda tersebut ditambahkan sumbu untuk mengendalikan laju pembakaran.
Sekitar abad ke-7 SM, bangsa Yunani
mulai membuat terra cotta lampu untuk menggantikan obor genggam. Terra
cotta adalah benda yang terbuat dari tanah liat melalui proses
pembakaran, sehingga dapat digenggam dan terhindar dari sambaran api.
Pada abad ke-18, terjadi perbaikan
besar dalam desain lampu. Sumber bahan bakar tertutup rapat dalam wadah
logam, agar dapat mengontrol banyaknya pembakaran bahan bakar serta
cahayanya. Beberapa saat kemudian, minyak lampu tersebut ditambahkan
sebuah cerobong kaca kecil untuk melindungi api dan mengontrol aliran
udara ke api.
Dahulu bahan bakar penerangan ini
terdiri dari minyak zaitun, lilin lebah, minyak ikan, dan bahan
sejenisnya. Ini adalah bahan bakar umum yang digunakan sampai akhir abad
18.
Pada 1859, pengeboran minyak bumi
dimulai. Minyak tanah yang merupakan turunan minyak bumi semakin populer
untuk mendukung pembakaran minyak lampu. Batubara dan lampu gas alam
juga meluas. Gas batubara pertama kali digunakan sebagai bahan bakar
penerangan pada awal 1784.
Pada 1792, penggunaan gas lampu
mulai diperjualbelikan ketika William Murdoch menggunakan gas batubara
untuk penerangan rumahnya. Freidrich Winzer adalah orang pertama yang
mematenkan pencahayaan gas batubara pada 1804 dan thermolampe yang
menggunakan gas sulingan dari kayu pada 1799.
Pada awal abad ke-19, sebagian besar
kota di Amerika Serikat dan Eropa memiliki jalan-jalan dengan
pencahayaan lampu gas. Kemudian, masih pada abad ke-19, terjadi
pengembangan pada penerangan menggunakan listrik. Lama kelamaan
pencahayaan di jalan-jalan berganti dengan natrium tekanan rendah dan
lampu merkuri bertekanan tinggi pada 1930-an.

