A. Pengertian Psikoterapi
Dalam perspektif bahasa, psikoterapi berasal dari kata psyche dan therapy. Kata psyche berarti jiwa, sedangkan therapy yang berarti penyembuhan. Jika
digabungkan psikoterapi mempunyai arti penyembuhan jiwa. Psikoterapi merupakan salah satu modalitas terapi yang terandalkan
dalamtatalaksana pasien psikiatri disamping psikofarmaka dan terapi fisik.
Sebetulnya dalam kehidupan sehari-hari, prinsip-prinsip dan beberapa kaidah
yang ada dalam psikoterapi ternyata juga digunakan, antara lain dalam
konseling, pendidikan dan pengajaran, atau pun pemasaran.
Dalam praktek, psikoterapi dilakukan dengan percakapan dan
observasi. Percakapan dengan seseorang dapat mengubah pandangan, keyakinan
serta perilakunya secara mendalam,dan hal ini sering tidak kita sadari. Di bawah
ini pengertian psikoterapi menurut beberapa ahli:
1.
Corsini
Psikoterapi
adalah proses moral dari interaksi dari dua pihak. Setiap pihak biasanya
terdiri dari satu orang. Tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau
lebih pada setiap pihak, dengan tujuan untuk keadaan yang tidak menyenangkan
pada salah satu bidang.
Berikut,
fungsi kognitif (kelainan pada fungsi berfikir) fungsi afektif (penderitaan
atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku
(ketidaktepatan perilaku), dengan terapi yang memiliki asal-usul kepribadian,
perkembangan mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan beberapa metode
erawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui resmi untuk bertindak
sebagai terapi. Singgih D. Gunarso (dalam library walisongo, 2005)
2.
Lewis
R. Worberg M.D.
Dalam
bukunya yang berjudul The Technique Psychotherapy, mengatakan psikoterapi
adalah perasaan dengan menggunakan alat-alat psikologi terhadap permasalahan
yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang ahli secara sengaja
menciptakan hubungan profesional dengan pasien yang bertujuan ; menghilangkan,
mengubah atau menurunkan gejala-gejala yang ada. Memperantarai (perbaikan) pola
tingkah laku yang rusak. Meningkatkan pertumbuhan serta perkembangan
kepribadian yang positif. Abdul Aziz (dalam library walisongo, 2005).
3.
Warson
dan Morse
Psikoterapi
adalah bentuk khusus dari interaksi antara dua orang pasien dan terapis pada
mana memiliki dari interaksi. Karena mencari bantuan psikologis dan terapi
menyusun interaksi dengan menggunakan dasar psikologis untuk membantu pasien
meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupanya dengan mengubah
pikiran, perasaan, dan tindakanya. Singgih D. gunarso (dalam library walisongo,
2005)
B.
JENIS JENIS PSIKOTERAPI
1.
Psikodinamik (psikoanalitik) Psikoterapi adalah di
mana seorang terapis psikoanalisis akan mendorong klien untuk mengatakan apapun
yang terjadi melalui pikirannya. Hal ini akan membantu klien untuk menyadari
makna tersembunyi atau pola dalam apa yang klien lakukan atau katakan yang
mungkin berkontribusi terhadap masalahnya. Klien akan diberikan waktu untuk
berpikir dan berbicara tentang perasaannya tentang diri sendiridan
orang lain (terutama keluarga dan orang-orang terdekat). Biasanya
klien akan membahas apa yang terjadi dalam hidup klien saat ini, apa yang telah
terjadi di masa lalu, bagaimana masa lalu dapat mempengaruhi bagaimana Anda merasa, berpikir dan berperilaku
sekarang.
2. Terapi perilaku kognitif adalah suatu bentuk psikoterapi
dengan cara membantu kliendalam mengatasi masalah yaitu dengan mengubah cara
klien berperilaku. Sebagai contoh,klien mungkin perlu untuk mengatasi rasa
takut, atau fobia. Terapis akan membantu klien secara bertahap, dengan
menggunakan lebih banyak waktu untuk situasi yang sedangklien rasakan, seperti
rasa takut, penggunaan waktu yang lebih lama akan membantu klien merasa lebih
nyaman dan santai dalam terapi ini.
3. Terapi
kognitif analitis adalah suatu bentuk pengobatan di mana seorang terapis membantu
pasien untuk memahami hal-hal yang tidak beres di masa lalunya dan mengeksplorasi
bagaimana untuk memastikan bahwa mereka tidak bersalah pada waktu yang akan
datang.
4. Terapi
interpersonal adalah suatu bentuk psikoterapi untuk pengobatan untuk depresi. Hal
ini bertujuan untuk membantu klien untuk memahami bagaimana masalah yang dihadapinya,
dan membantu klien untuk mengetahui bagaimana memperkuat hubunganantar sesama
dan menemukan bagaimana cara yang lebih baik untuk mengatasi masalah.
5. Terapi
humanistik adalah suatu bentuk psikoterapi yang berfokus untuk mengenali
kemampuan manusia dalam bidang-bidang seperti kreativitas, pertumbuhan pribadi,
dan pilihan.Tujuan utamanya adalah untuk mencari tahu bagaimana individu memandangdiri
mereka sendiri dan untuk mengenali pertumbuhan, pengarahan diri sendiri, dantanggung
jawab. Metode ini membantu klien dalam upaya untuk mengenali kekuatanmereka dengan pengalaman
dan pemahaman.
Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, psikoterapi terbagi
atas : psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan psikoterapi
rekonstruktif
a.
Psikoterapi Suportif
Psikoterapi suportif berfokus pada penggunaan langkah-langkah langsung
untuk memperbaiki gejala, mengembangkan, dan meningkatkan harga diri, dan dukungan
fungsi ego dan mekanisme pertahanan adaptif. Bentuk terapi ini bertujuan untuk
membantu pasien supaya lebih baik dalam mengatasi gejala dan memecahkan masalah,
bukan untuk mencapai perubahan perilaku yang mendasar. Sementara teknik yang
mendukung dapat digunakan sebagai bagian dari modalitas lainnya, faktor-faktor pasien seperti krisis yang parah, kecemasan miskin dan toleransi frustrasi, kurangnya pikiran psikologis dan kapasitas untuk pengamatan
diri, pikiran dan perilaku tidak teratur, kecerdasan
terbatas, gangguan realitas, afektif miskin dan kontrol impuls, dan gangguan
kemampuan relasional menghalangi terapi lebih ekspresif. Psikoterapi suportif adalah
bentuk yang paling banyak di praktekkan dari psikoterapi individu. Cara
atau pendekatan: bimbingan, reassurance, terapi kelompok.
b.
Psikoterapi Reedukatif.
Bertujuan untuk mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan
(habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan. Prinsipnya
adalah dengan belajar. Cara atau pendekatan yaitu dengan terapi perilaku,terapi
kelompok, terapi keluarga, psikodrama.
Pasien yang diterapi dengan cara ini memiliki gangguan jiwa yang
dianggap berasal dari pengalaman belajar yang salah (ex:tempat tinggi
menakutkan, kucing berbahaya, dll),
sehingga perlu diajarkan kembali bahwa semua itu tidak berbahaya.
c. Psikoterapi
Rekonstruktif
Bertujuan untuk tercapainya tilikan (insight) akan
konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur
kepribadian seseorang. Cara atau pendekatan: Psikoanalisis klasik, psikoterapi
berorientasi psikoanalitik atau dinamik. Terapis menggunakan pendekatan psikoanalitik (cara Freud
dan non-Freud) sehingga memerlukan waktu yang panjang. Terapis akan
membantu pasien untuk mengenal proses nirsadar yang mendasari gejalanya, melalui analisis yang
sistematik terhadap kata-kata pasien, mekanisme defensifnya, analisis mimpi,
serta simbolisasi dari suatu hal yang buruk di masa lalu. Contoh: pada pasien
dengan gejala takut gelap, terapis membantu pasien untuk berpikir, merenung dan
menggali apa sebenarnya yang ia takutkan (bisa jadi gelap tersebut adalah
simbolisasi dari suatu hal buruk di masa lalu)
C.
EFEKTIVITAS PSIKOTERAPI
Dari berbagai penelitian statistik yang telah dilakukan, ternyata
diantara sekian banyak bentuk dan jenis psikoterapi yang ada, tidak satupun terbukti lebih unggul dari
pada yang lain. Perbaikan terapeutik yang dicapai, ditentukan oleh
faktor-faktor:
tujuan yang ingin dicapai, motivasi pasien, kepribadian dan
keterampilan terapis serta teknik yang digunakan.
KESIMPULAN
Psikoterapi adalah cara cara atau pendekatan yang menggunakan
teknik teknik psikologi untuk menghadapi ketidakserasian atau gangguan mental.
Psikoterapi menggarap hal-hal yang dasar dan rasional, serta nirsadar dan
irasional. Gejala gejala yang tampak secara klinis pada pasien,
menggambarkan perilakunya menghadapi hidup. Apabila ingin menyembuhkan
jiwa atau mencari jalan untuk kesembuhan jiwa, kita harus memahami hal-hal yang
mempengaruhi seseorang sejak masa dini hingga kini. Dalam melakukan
psikoterapi, hendaknya kita mengoptimalkan fungsi mendengar dengan seksama (theraupeutic
or empathic listening) dan mengoptimalkan hubungan terapeutik (theraupetic
alliance). Kita jangan berpreokupasi pada tujuan yang ingin
dicapai (misanya harus memberikan saran apa bagi pasien). Semakin kita
mendengar, kian jelas apa yang harus kita lakukan.
SUMBER
http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/2/jtptiain-gdl-s1-2005-emisulastr-66-Bab- 2.pdf
http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/2/jtptiain-gdl-s1-2005-emisulastr-66-Bab- 2.pdf


