Rabu, 22 Januari 2014

DIANTARA 2 PILIHAN




         Waktu menunjukkan tepat pukul 13.00 wib. Tetapi bel sekolah belum berbunyi. Selly adalah salah satu siswi yang tidak konsentrasi belajar. Bukan karena lapar, haus atau ngantuk, tetapi ia sedang bingung. Dua lembar undangan ulang tahun tergeletak di atas mejanya. Yang satu, undangan ulang tahun sahabatnya, Rita. Yang lainnya adalah undangan ulang tahun Jessy, siswi terpopuler di sekolah. Selly ingin pergi ke pesta Rita dan Jessy. Tetapi masalahnya adalah jam dan hari kedua undangan itu sama. Ia bingung harus pergi ke pesta yang mana akhir pekan ini?
          Rita adalah sahabat Selly sejak kecil. Ia sahabat yang baik dan setia. Mereka sudah seperti saudara, saking dekatnya. Mereka saling berbagi dan saling mengasihi. Kalau Selly sedih, Rita selalu menghibur. Rita selalu ada di sisi Selly kala suka maupun duka. Bersama Rita, Selly merasa nyaman dan bahagia. Tidak ada sahabat yang paling baik di dunia ini selain Rita.
          Selly ingin pergi ke pesta ulang tahun Rita. Ia tidak mau membuat Rita sedih dan kecewa. Akankah ia memilih pergi ke pesta sahabatnya ini?

***
          Kelas sudah sepi. Di kelas hanya ada Selly yang masih bingung memilih ke pesta ulang tahun siapa ia harus pergi malam minggu nanti?
          Betapa inginnya Selly berteman dengan Jessy, cewek terpopuler di sekolah itu. Jessy adalah gadis yang cantik dan kaya. Ayahnya adalah pemilik sekolah itu. Cowok-cowok di sekolah, maupun di luar sekolah pada ngejar-ngejar dia. Ia juga pandai bergaul sehingga banyak yang menjadi temannya.
          Selly ingin popoler juga seperti Jessy. Mungkin dengan menjadi temannya, dia bisa ketularan kepopuleran Jessy. Tetapi Selly adalah anak yang pemalu dan tidak pandai bergaul. Temannya hanya sedikit dan termasuk dalam kelompok orang-orang cupu di sekolah.
          Maka, ketika menemukan undangan dari Jessy di laci mejanya, ia kesenangan. Di plastik undangan itu tertulis “Untuk Selly”. Jadi itu bukan sekedar terselip atau salah letak, tapi memang benar-benar untuknya. Bahkan, untuk memastikan, Selly pun bertanya pada Jessy apakah undangan itu untuknya?
          “Ya, iyalah, Sel. Emang lo nggak bisa baca, ya? Jelas-jelas di plastiknya gue tulis nama lo. Datang  ya. Oh, ya, karena temanya pajamas party, lo harus pake baju tidur. Gue kasih tau ini sebelumnya supaya lo nggak salah kostum, kan lo malu sendiri kalo saltum. Dandan yang cantik, ya! kata Jessy.
          Bagi Selly, adalah suatu kehormatan bisa diundang oleh Jessy. Jarang-jarang, loh! Akankah ia memilih ke pesta cewek populer ini?

***
          Akhirnya, setelah berpikir cukup lama, Selly membuat keputusan. Ia akan pergi ke pesta ulang tahun Jessy. Menurutnya, kalo ke pesta Rita kan sudah sering, tetapi kalo ke pesta Jessy, kapan lagi…? Sekali seumur hidup, bo!
         



 “Rit… panggil Selly pada Rita di pintu gerbang sekolah.
          “Ada apa, Sel?”
          “Ehm… kayaknya aku nggak bisa datang ke ulang tahunmu sabtu ini. Aku ada acara lain. Maaf, ya.”
          “Kamu pasti mau ke pesta ulang tahun Jessy,”
          “Eh…em..iya. Abisnya, ini pertama kalinya Jessy ngundang aku. Jarang-jarang kan, dia ngundang orang-orang yang nggak terkenal seperti kita. Rit, Kamu nggak marah, kan? Maaf, ya… aku janji, kalo sempat, aku pasti ke rumahmu.”
          “It’s ok, no problem. Tapi apa kamu yakin akan ke sana? Di sana kan orang-orang terkenal semua. Kalo kamu dicuekin gimana?”
          “Aku akan mencoba untuk menyesuaikan diri.”
          “Hmm… ya sudah, have a nice party.”
          “Makasih, ya Rit. Kamu emang sahabatku yang paling pengertian,” Selly memeluk Rita.

          Sebenarnya Rita sangat kecewa karena sahabatnya lebih memilih ke pesta ulang tahun orang lain dari pada ke pestanya sendiri. Padahal ia berharap, di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas ini, ia bisa memberikan first cake (potongan kue pertama) kepada sahabatnya ini.

***
          Ruangan rumah Jessy cukup gelap dengan cahaya lampu disko berkelap-kelip di sana-sini. Suara musik keras memekakan telinga. Beberapa orang menari mengikuti irama musik itu, dan yang lainnya asyik ngobrol sambil minum-minum.
          Itulah suasana pesta ulang tahun Jessy. Dalam sekejap rumah gede Jessy di sulap menjadi diskotik. Selly hanya menatap seperti orang bodoh di tempat itu. Bajunya juga lain dari pada yang lain. Semua berpakaian serba terbuka, sementara dia memakai baju tidur pink motif  bunga-bunga dengan boneka teddy bear kecil dipelukannya.
          Jelas-jelas kata Jessy tadi siang, tema pestanya adalah pajamas party, tapi kenapa hanya dia saja yang memakai baju tidur? Apakah ia salah dengar, tadi? Tidak mungkin! Atau, apakah dia salah masuk rumah? Saat ia mau pergi, namanya dipanggil.
          “Hai, Selly. Lo mau ke mana? Pesta baru aja di mulai, kok lo udah buru-buru mau pulang?” Tanya Jessy sambil menahan tawa.
          “Jess, gimana, sih? Tadi siang kamu bilang kalo aku harus pakai baju tidur karena tema pestamu pajamas party, kok sekarang cuma aku yang pakai baju tidur?”
          “Oh, jadi lo kira lo saltum ya? Nggak lagi, Sel. Ini baru pesta awal. Ntar lagi mereka ganti baju tidur kok. Nyantai aja kali.”
          Jessy menarik tangan Selly ke meja, lalu memberinya minuman.
          “Nyantai aja, Sel. Ntar, kalo cowok-cowok itu sudah pulang, baru kita mulai pajamas partynya. Sambil nunggu, lo minum aja dulu nih. Jessy memberikan segelas minuman keras.
          Selly meminumnya sedikit dan merasa mual, Minuman apa ini, Jess? Kok rasanya aneh?
          Itu minuman dari luar negeri. Jelas aneh, lo kan baru pertama kali minum itu. Lo duduk di sini aja dulu, gue mau ke tempat teman-teman gue dulu. Atau mungkin lo mau ikutan nge-dance juga boleh. Nikmati aja pestanya, kata Jessy,dan ia pergi sambil cekikikan.          

Jessy mengajak Selly untuk menikmati pesta ini, tetapi Selly sama sekali tidak nyaman dengan semua ini. Ia merasa dirinya seperti dikerjai oleh Jessy. Jessy sepertinya sengaja untuk mempermalukannya. Buktinya, semua orang menertawakannya dan sudah dua jam pesta berlalu, belum ada tanda-tanda dimulainya pajamas party. Ia hanya duduk di sebuah meja seorang diri. Ia membayangkan pesta di rumah Rita, pasti sangat menyenangkan. Andai waktu bisa di ulangi, ia tidak akan ke pestanya Jessy. Dalam hatinya, muncul rasa penyesalan karena telah memilih untuk pergi ke pesta ini.
         
 Selly berdiri dan berjalan ke toilet. Belum sempat melewati pintu toilet, ia mendengar beberapa orang membicarakan dirinya sambil tertawa girang. Suatu percakapan yang menyakitkan hati.
          Wah, sukses lo ngerjain dia, Jess. Ide lo emang benar-benar brilian, puji Tami sambil berdandan di kaca  yang ada di toilet.
          “Hahaha… percaya aja dia kita suruh pakai baju tidur,” Tami tertawa.
          “Jadi gue menang, kan?” ucap Jessy bangga.
          Yeah… tapi duitnya ntar dulu, ya. Lagi kanker nih! kata Tami.
          “Ye… lagi bokek berani ngusulin taruhan,” omel Jessy.
          Tapi, nggak apa-apa, deh. Kan, biar ada hiburan di pesta gue.
          Ngomong-ngomong, dia itu temannya Rita yang sok pintar itu, kan? tanya Tami
           Kata-kata Tami menjadi pisau tajam dan menancap tepat di hati Selly.
          Sok pintar? Erina memang pintar, tapi ia tidak sombong seperti kalian! Jerit batin Delia.
          “Iya, si cupu yang pelit itu, yang nggak pernah kasih kita jawaban waktu ulangan. Dia kan ulang tahun juga hari ini. Pasti dia sedih banget, karena temannya lebih memilih ke pesta gue dan dikerjain sama gue. Hahaha…”
          Tak terasa, air mata Selly mengalir dan bergulir di pipi. Ia berlari keluar dan tanpa sengaja bertubrukan dengan seorang cewek.
          “Aduh… mata lo di taruh di mana, sih?! Lihat, nih, minuman gue tumpah di baju gue. Baju gue ini mahal, tau!” omel cewek itu.
          “Ada apa, sih, Mel?” tanya teman cewek itu, kemudian teman-teman lainnya berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.
          “Ini, cewek aneh yang salah kostum, numpahin minuman ke baju gue.”
          “Idih, ngapain juga, sih, cewek kampungan kayak lo datang ke pesta elit begini? Pake baju tidur, lagi! Nggak malu, lo? Kalo gue jadi elo, pasti gue sudah pulang dan nggak akan berani nongolin muka gue, karena gue salah kostum. Yah, tapi gue maklumlah, orang kampung dan cupu kayak lo urat malunya sudah putus alias nggak tahu malu. Mending sekarang lo pulang, daripada ngerusak pesta ini,” kata teman cewek tadi.
          Selly benar-benar sudah tidak bisa menahan dirinya untuk pergi dari pesta itu. Ia malu sekali, apalagi setelah itu, semua orang menertawakan dan mengejeknya. Ia berlari keluar dari rumah itu. Berlari dan terus berlari…
        

 Betapa menyesalnya Selly karena telah salah memilih. Seharusnya sekarang ia sedang bersenang-senang dengan Rita dan teman-teman lainnya. Biarpun mereka di cap sebagai kelompok orang cupu, tetapi dia merasa lebih nyaman berada di antara mereka, daripada dengan kumpulan orang-orang terkenal yang suka menggosip, menghina dan mengerjai orang.
          Seharusnya dia tidak meninggalkan pesta Rita, sahabat sejatinya yang jelas-jelas menyayangi dirinya dan tidak mungkin mengerjainya seperti ini. Seharusnya ia tidak memilih pergi ke pesta hancur dan makan hati seperti ini. Selly salah pilih. Namun apa daya, memang penyesalan selalu datang di akhir masa.



THE END